Trip Teluk Kiluan Edisi Jalur Darat

“Gilak tepos pantat gue neh kagak nyampe-nyampe ke Kiluan”

Itu yang saya rasakan ketika pergi ke Teluk Kiluan menggunakan jalur darat. Ada 2 tipe cara sebenarnya untuk menuju Teluk Kiluan yaitu jalur laut dan jalur darat. Alhamdulillah dua-duanya sudah saya cobain, sensasi rasanya beda-beda tentunya. Mau share cerita yang sebagian besar adalah curhatan ketika pergi ke Kiluan dengan 2 jalur ini. Pertama, izinkan saya untuk bercerita pengalaman trip menggunakan jalur darat terlebih dahulu.

Edisi Jalur Darat

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Teluk Kiluan di bulan September 2013. Saat itu tripnya judulnya  ‘Trip Edisi Jomblo Ngenes’ dengan tujuan mencari cinta di Teluk Kiluan (namanya juga usaha). Pergi berduaan dengan kawan Jones (Jomblo Ngenes) saya yaitu si Kojo dan kebetulan saat itu gabung ikut trip ke salah satu travel organizer. Untuk memulai trip menggunakan jalur darat tetap kita harus menyebrang terlebih dahulu ke Pelabuhan Bakauheni dari Merak. Sesampainya di sana, kami dan rombongan sudah dijemput oleh mobil ELF, satu mobil diiisi sekitar 11 orang. Perjalanan pun di mulai, karena saking ngantuknya begitu naik ELF saya langsung tewas tidur.

1 jam..2 jam..3 jam…ini belum sampai-sampai juga. Jalanan mulai agak rusak dan berkelok-kelok  tapi si supir malah makin asik nge-gas pol. Selama perjalanan ini kami melewati beberapa objek wisata pantai di sekitar Lampung dan diajak mampir di Pantai Klara. Klara yang digunakan sebagai nama pantai itu sendiri diambil dari kata Kelapa Rapat. Katanya sih asal muasal nama kelapa rapat itu maksudnya merujuk pada jejeran pohon kelapa yang berbaris rapat di sepanjang pantai. Pantai ini dekat dengan Pangkalan TNI AL sehingga di beberapa tempat seperti gazebo terdapat tulisan TNI AL di atas atapnya. Fasilitas di pantai ini sudah lumayan lengkap ada dermaga kayu, gazebo untuk santai, toliet, penjual makanan minuman hingga permainan air seperti kano. Tidak lama kami menghabiskan waktu disini mengingat Kiluan masih jauh.

Dari Pantai Klara untuk ke Kiluan sebenarnya sudah setengah jalan, dan perjalanan menantang pun di mulai. ELF mulai menaiki dan menuruni satu persatu bukit. Jalanan di perbukitannya ini sangat parah menurut saya. Pertama kondisi jalan berlubang dan aspal yang rusak sehingga mobil harus pelan-pelan melewatinya kalau gak bisa nyrungsuk. Kedua, kurangnya petunjuk/rambu lalu lintas dan pembatas jalan yang memadai. Bisa dibanyangkan dengan kondisi jalanan seperti itu menanjak pula tapi sebelah nya langsung jurang. Ngeliat nya ngeri banget ini. Lebih parah lagi ketika melewati jembatan atau tanjakan tajam, beberapa kali penumpang paling depan (2 orang) harus turun dahulu agar ELF bisa nanjak. Perut mulai di kocok-kocok ini. Mana laper pulak, di mobil cuma bisa molor doank. Mati gaya abis deh.

Saya agak bingung dengan pemerintah kota Lampung, memiliki aset pariwisata seperti ini yang bagi saya sangat potensial untuk dikembangkan, kenapa tidak melakukan pembenahan dan perbaikan infrastruktur di dalamnya. Sayang sekali buat saya, sempat ada pikiran curiga mungkin jalanan tidak mau di betulkan agar turis atau wisatawan tidak membludak untuk ke sana. Ini pikiran dan opini saya saja lho. Harapannya semoga pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata Lampung bisa lebih memperhatikan pengembangan sektor wisata di wilayahnya. Tidak usah ditutupi, semua orang berhak untuk menikmatinya.

“Pak, belum sampe-sampe neh?” dijawab seperti ini “Bentar lagi neng, itu di balik bukit itu (sambil nunjuk 2 bukit lagi)”, hening seketika. Masih jauh banget meen!!.

Perjalanan panjang ini akhirnya mendapat pencerahan dan angin segar sedikit setelah sampai di gerbang pintu Teluk Kiluan. Dari gerbang ini tinggal menuruni jalanan untuk sampai ke perkampungan warga. Akhirnya ini sampai juga, kaki dengkul pantat sudah panas banget ini saking pegelnya. Total perjalanan menggunakan jalur darat sekitar 6 jam dari Pelabuhan Bakauheni. Cukup lama, ya agak dimaklumi juga karena medannya yang begitu jauh dan tidak bagus.

Gerbang Masuk Teluk Kiluan. Finally!

Gerbang Masuk Teluk Kiluan. Finally!

Begitu sampai langsung istirahat sambil makan siang di salah satu rumah warga. Sambil makan dan bersih-bersih, Tour Leader kami pun menawarkan trip untuk main ke spot Karang Pegadung. Tapi untuk mencapai tempat ini harus menggunakan ojek dengan kondisi jalan seperti bukit-bukit tadi dan membayar sekitar Rp 140.000. Tertarik untuk ikut, tapi dompet tidak mendukung karena saya hanya membawa uang cash tidak banyak. Nah sedangkan untuk peserta yang tidak ikut akan langsung di antarkan ke penginapan dan bersiap untuk snorkling di Pulau Kelapa.

Penginapan yang kami gunakan ternyata harus menyebrang ke pulau terlebih dahulu. Kapal jukung sudah siap mengantarkan para peserta ke Pulau Kiluan. Di pulau ini, masih serba terbatas fasilitasnya. Listrik hanya menyala di malam hari, air pun tidak banyak dan masih air payau. Tapi untuk segi ketenangan, pulau ini pas karena hanya ada beberapa rumah panggung di sini yang dijadikan sebagai homestay. Santai-santai sore sambil duduk di pinggir pantai rasanya enak sekali sampai ngantuk. Tour leader pun mengajak kami untuk siap-siap karena akan diajak snorkling di Pulau Kelapa. Pulau Kelapa ini terletak persis diseberang Pulau kami. Kalau berani bisa berenang dari Pulau Kiluan ke Pulau Kelapa. Tapi saya memilih naik jukung, tidak sampai 10 menit jukung pun sudah sampai ke Pulau Kelapa.

That's our homestay!

That’s our homestay!

 

Salah satu Homestay yang ada di Teluk Kiluan

Salah satu Homestay yang ada di Teluk Kiluan

Karakteristik pulau ini memiliki pantai berpasir putih yang halus, lalu gradasi warna biru dan hijau di laut yang begitu nyata serta memiliki ombak/arus yang tenang. Di pulau ini terdapat satu penginapan berbentuk seperti barak dan jika kita ingin menginap dengan cara camping pakai tenda juga bisa. Ada spot menarik di pulau ini tepatnya di belakang pulau ini, terdapat seperti pulau kecil yang terpisah tapi jika mau main ke atas nya bisa, tinggal menyeberang saja jalan kaki juga bisa. Hati-hati saja melewati bebatuan karang yang tajam-tajam. Di belakang pulau ini langsung laut lepas, jadi deburan ombak begitu terasa di bagian belakang ini. Untuk tempat snorkling di pulau ini tidak terlalu banyak. Saya mencoba snorkling di dekat pulau kecil yang terpisah ini. Terlihat ada tanda seperti bola apung yang menandakan ada karang di sana. Saat itu sudah sore dan air sudah agak keruh, ikannya pun tak banyak jadi agak kurang menarik bagi saya. Setelah puas snorkling dan bermain air, kami pun kembali ke pulau tempat menginap dan bersiap makan malam.

Menuju Pulau Kelapa, tinggal nyebrang dikit

Menuju Pulau Kelapa, tinggal nyebrang dikit

Pasir putih, gradasi warna biru laut di Pulau Kelapa

Pasir putih, gradasi warna biru laut di Pulau Kelapa

Agenda di pagi hari adalah mengejar jodoh di tengah laut alias mengejar lumba-lumba. Apesnya adalah semalem hujan badai datang jadinya di pagi hari angin bertiup kencang dan gelombang lautnya tinggi. Sebaiknya harus bisa baca musim dulu sebelum main ke laut. Naik kapal jukung berkapasitas 5 orang menerjang gelombang laut yang tingginya hampir 1.5 meter itu rasanyaaa MENGERIKAAAAAN MEEEEN!!! Hahahaha. Sesekali saya dan Kojo teriak karena saking takutnya. Kalah lah itu kora-kora di Ancol, ini lebih ekstrim. Untung si Bapak yang kemudiin kapalnya berhati mulia melihat penumpangnya sudah tidak sanggup diajak main wahana kora-kora ini, langsunglah berputar arah kembali pulang. Yah tidak jodoh, lumba-lumba tidak dapat, yang didapat hanya mabuk laut.

Are you ready for hunting guys??

Are you ready for hunting guys??

Suasana perburuan lumba-lumba di tengah laut

Suasana perburuan lumba-lumba di tengah laut

Gelombangnya tinggi Kapten!! Awas kapal oleng

Gelombangnya tinggi Kapten!! Awas kapal oleng

Siang harinya kami kembali pulang ke Jakarta dengan melewati rute yang sama, berkelok-kelok, menanjak dan jalanan rusak selama 6 jam. So far, saya tidak begitu menikmati perjalanan ini karena badan saya sudah rontok di jalan karena kelamaan duduk di ELF. Jalur darat ini cocok untuk yang mau santai, yang tidak suka dengan perjalanan laut tetapi ya itu resikonya adalah lama sekali perjalanan ke sini. Next cerita adalah edisi perjalanan laut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s