Amazing Trip To Derawan Part 4 (Finale)

Yeah..this is the last day.

Setelah 3 hari perjalanan yang penuh drama dan menyenangkan, di hari ke empat ini adalah hari terakhir saya dan Trancy berada di Derawan. Jadwal kapal kepulangan menuju Tarakan adalah jam 08.00. Dari pagi hari semua peserta trip sudah beres-beres kamar dan barangnya masing-masing. Sebelum berangkat pulang, saya masih menyempatkan diri untuk mengambil gambar sunrise . Yak saya masih belum dapat gambar sunrise di pagi hari. Setelah itu saya dan Trancy pergi untuk sarapan pagi yang telah disiapkan sembari saya pamitan dengan orang-orang sekitar seperti Pak Oslan.

Sunrise di Derawan

Sunrise di Derawan

Cuaca di hari terakhir ini sangat cerah, angin tidak berhembus kencang malah nyaris tidak ada angin. Tiba saatnya untuk pulang, satu-persatu barang bawaan masuk ke kapal dan rombongan trip pun sudah duduk manis di dalamnya. Saya mendengar kisah dari salah satu ABK kapal katanya jika cuaca tiba-tiba berubah menjadi sebagus ini itu karena laut telah mengambil korban (semacam tumbal mungkin ya). Jadi semalam itu ada kapal yang karam dan ada yang meninggal satu orang, ya menurut kepercayaan mereka jika laut sudah mengambil korban maka cuaca yang sebelumnya badai bisa berubah menjadi tenang. Mendengar hal itu agak-agak tidak percaya juga. Bismillah saja lah untuk kembali pulang dan berdoa agar selamat sampai rumah.

Perjalanan di laut sangat begitu mulus. Nyaris tidak ada gelombang, seperti ketika naik mobil di jalan aspal. Laut begitu tenang seperti cermin, sangat berbeda sekali dengan hari-hari sebelumnya. Jadi teringat kisah sang ABK, mungkin ada benarnya. Tidak memakan waktu lama untuk bisa sampai ke Pelabuhan Tarakan hanya 3 jam kurang. Sesampainya di sana kami langsung dijemput mobil untuk diantar makan siang. Tempat makan siang pun tidak terlalu jauh, salah satu restoran ayam goreng di sana.

Jadwal hari terakhir ini hanya berkunjung ke Hutan Bekantan, beli oleh-oleh lalu diantar ke airport. Hutan Bekantan ini merupakan salah satu tempat konservasi Bekantan yang letaknya di tengah kota Tarakan. Agak bingung memang tempat konservasi dan penangkaran hewan yang langka di tempatkan di tengah kota. Bisa jadi karena Bekantan merupakan icon kota Tarakan jadi lebih mudah akses para wisatawan untuk melihatnya.

Lokasi Hutan Bekantan ini hanya 10 menit jika berkendara dari arah pelabuhan. Harga tiket masuknya sendiri murah sekali, saya agak tidak terlalu memperhatikan yang pasti tidak lebih dari Rp 10.000. Saat masuk ke dalam kawasan hutan ini seperti memasuki kawasan hutan Bakau yang di Bali. Kita harus jalan diatas jembatan-jembatan kayu dan pemandangan kanan kiri penuh oleh tumbuhan bakau serta pohon-pohon yang sangat tinggi. Sangat asri dan saya merasa tidak seperti berada di tengah kota, benar-benar seperi di hutan. Kawasan Hutan Bekantan ini memiliki luas yang lumayan besar untuk hutan yang berada di tengah kota. Banyak suara burung, dan ada yang melihat ular juga. Tahu ada ular di salah satu pohon, saya langsung cepat-cepat jalan menuju tempat bekantan. Setelah jalan 15 menit, kami memasuki area yang ada monyet bekantannya. Ternyata tidak hanya bekantan, ada jenis monyet lain yang menempati area ini seperti monyet yang ada di Sangeh, Bali. Mereka suka sekali mendekat ke arah pengunjung untuk meminta makan, sesekali suka nekat mereka langsung menarik tas atau plastik yang dibawa. Bekantan ini salah satu jenis kera/monyet yang memiliki hidung besar dan gendut, kalau kalian tahu icon Dufan. Nah itu adalah Bekantan. Bekantan sendiri cenderung tenang sifatnya, hanya bergelantungan di pohon dan duduk-duduk di atasnya. Pose yang pas untuk di foto. Setelah puas foto-foto Bekantan, kami langsung diantar kembali ke tempat oleh-oleh.

Suasanan di dalam Hutan Bekantan

Suasanan di dalam Hutan Bekantan

Nicholas si Bekantan

Nicholas si Bekantan

 

Gaya si Bekantan

Gaya si Bekantan

Gak lengkap kalau gak narsis

Gak lengkap kalau gak narsis

Saya bingung jika ditanya oleh-oleh khas Tarakan itu apa. Kami dibawa ke salah satu toko oleh-oleh terkenal di kota Tarakan, ternyata toko ini terdapat bakery shopnya juga. Ketika saya masuk dan melihat barang-barangnya, ternyata isinya semuanya adalah produk makanan dan minuman dari Malaysia. Dari kopi, teh tarik, milo,manisan, wafer sampai permen-permen pun produk dari Malaysia. Saya jadi tidak tertarik untuk berbelanja berharap ada makanan yang khas dari Tarakan. Akhirnya saya menemukan kerupuk ikan khas Tarakan. Ini saya pernah mencobanya dan rasanya enak. Langsung borong banyak, selain kerupuk ikan ada juga beraneka ragam ikan asin. Mas Malik menyusul saya ke toko ini, dia mengajak saya dan Trancy untuk kuliner kepiting karena di Tarakan katanya banyak kepiting kenari dan kepiting soka. Tawaran asik itu saya terima mengingat waktu flight saya adalah flight terakhir dan ini masih jam 3 sore.

Saya dan Trancy pun berpisah dari rombongan untuk ikut bersama Mas Malik. Lokasi tempat makan kepiting kenari dan kepiting soka tidak jauh dari bandara. Jalan kaki sebenarnya bisa saja tapi karena bawaan kami sudah banyak agaknya sulit kalau disuruh jalan kaki. Bingung memilih antara kepiting soka atau kenari, dua-duanya menggiurkan. Tapi karena kepiting kenari termasuk sudah langka dan harganya mahal pula, saya tidak tega untuk memakannya. Pilihan ke kepiting soka. Kami pun diantar oleh mobil sewaan yang disewa oleh Mas Malik ke tempat kepiting soka. Restorannya seperti rumah, ada patung kepiting di depannya. Menu kepiting soka di restoran ini bisa di bawa pulang atau di makan langsung di tempat. Paket kepiting soka untuk dibawa pulang harganya Rp 75.000 isinya 6 ekor kepiting soka. Daya tahannya adalah 24 jam karena kepiting ini tidak menggunakan pengawet. Tingkat kematangan pun bisa dipilih, tinggal cerita saja ke pemiliknya kita sampai di rumah jam berapa dan akan dimakan jam berapa, sang pemilik pun akan membantu untuk mengestimasi tingkat kematangan agar tidak cepat basi. Sambil menunggu pesanan yang dibawa pulang jadi, kami pun mencoba memesan menu paket kepiting untuk dicoba disantap langsung. Menunya macam-macam dari paket nasi+kepiting soka+sup kepiting, ada juga nasi goreng kepiting, dll. Harganya tidak terlalu mahal sekitar Rp 25.000-Rp 38.000 untuk semua menu paketannya. Saya dan Trancy memilih menu paket nasi+kepiting soka+sup kepiting tapi gara-gara masih kenyang, kami meminta tanpa nasi dan mengganti sup kepiting dengan kepiting saja. Pesanan pun tiba, kepiting soka ukurannya tidak besar dan digoreng garing dengan bumbu wijen. Rasanya gurih dan dipadukan dengan saosnya, enak rasanya. Teksturnya lembut dan cangkangnya sangat lunak bisa dimakan.

Lokasi restoran kepiting soka terletak di Jln. Mulawarman Tarakan, dan ada cabangnya di Bandara Juwata jika yang ingin cepat membelinya langsung tapi kepitingnya tidak sepanas dan tidak bisa request tingkat kematangan seperti beli di pusatnya.

Setelah puas nyemil kepiting soka, kami langsung ke bandara. Flight kami berangkat di jam 19.20 WITA dan kami harus menunggu hampir 3 jam lebih. Di sini saya, Trancy dan semua peserta trip lainnya mengobrol satu sama lain, bercanda dan semakin mengenal satu sama lain. Pablo dan Livina, 2 bule yang asik bisa kami bercandai, mereka juga asik dan membagikan pengalaman ngetrip ataupun tempat-tempat wisata di negara mereka. Inilah kenapa saya suka sekali pergi open trip karena bisa bertemu teman baru, pengalaman baru, cerita-cerita seru dan semakin lebih menghargai orang lain.

Penumpang pun akhirnya dipanggil untuk memasuki pesawat. Rombongan trip kami pun duduknya saling bersebelahan dan depan-depanan. Ujung-ujungnya bercanda lagi dan berisik di dalam pesawat. Perjalanan udara dari Tarakan ke Jakarta memakan waktu kurang lebih 3 jam. Cuaca saat itu lagi hujan dan Perjalanan sedikit tidak mulus karena pesawat sering bergoncang. Akhirnya kami tiba di Jakarta dengan selamat dan sebelum meninggalkan airport, saya dan rombongan trip saling mengucapkan salam perpisahan, sedikit sedih rasanya berpisah dengan mereka, 4 hari di habiskan bersama dari yang awalnya tidak saling kenal menjadi dekat diakhirnya. Perjalanan Trip ke Derawan sudah usai, kembali ke realita kehidupan, kembali ke kantor bekerja demi bisa pergi ke trip-trip selanjutnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s