Amazing Trip To Derawan Part 2

“Badai pasti berlalu”

Benar-benar salah musim saya berkunjung ke Derawan. Di pertengahan Januari ini memang sedang mengalami perubahan arah angin, jadi mengakibatkan cuaca yang tidak stabil. Pada siang hari udara sangat panas tetapi di malam hari akan turun hujan. Di malam pertama, bukan hujan lagi melainkan badai. Yak! suara angin yang begitu kencang, hujan begitu keras, hingga suara deru gelombang air laut begitu terdengar menerpa kayu-kayu penyangga homestay apung kami. Malam itu saya hanya bisa berdoa agar besok cuaca cerah cemerlang tanpa badai.

Taadaaaaa….!!! Ternyata di pagi harinya mendung kelabu dan angin berhembus kencang, terkadang gerimis pun turun. Saat itu saya dan Trancy sudah semangat sekali mau mengejar Sunrise tapi apa daya, sang mentari pagi tertutup oleh awan hitam. Sudah mulai agak pesimis dengan hari itu, mengingat di hari kedua ini jadwal perjalanan yang paling seru, yaitu keliling Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban dan Marauta. Jadwal di hari itu sedikit agak ngaret, di jadwalkan akan berangkat dari dermaga jam 07.00 tetapi hingga pukul 07.30 belum berangkat juga, entah apa yang ditunggu. Sambil menunggu waktu berangkat, saya pun jalan-jalan menikmati perkampungan di sekitar Pulau Derawan. Di Pulau Derawan ini cukup dibilang Pulau yang cukup ramai. Sudah banyak rumah warga, homestay, cottage dan resto-resto tempat makan. Setelah puas keliling-keliling pulau, saya memutuskan kembali ke kamar penginapan.

Geng trip rombongan

Geng trip rombongan

Tak disangka Tak diduga, saya bertemu Mas Malik (Re: Boss Travelmate Indonesia). Agak kaget saya, saya berpikir dia membawa rombongan trip ke Derawan, padahal saya tidak lihat jadwal opentrip ke Derawan di Facebook dan Twitternya. Dia pun kaget bertemu saya, awalnya saya yang mengenalinya terlebih dahulu dan dia agak-agak lupa dengan saya (padahal sering banget comment di FB nya). Ini saya bisa tahu dia akibat hobby memantau jadwal trip organizer di FB maupun Twitter. Sudah lama saya memantau trip yang diadakan oleh Travelmate Indonesia, ingin ikut sekali ke trip nya tapi kadang jadwal nya yang tidak pas dengan waktu saya. Belum ada kesempatan saja. Di sanalah kami pun berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Mas Malik pun cerita kalau kedatangan dia ke Derawan dalam rangka jalan-jalan sendiri sekaligus survei. Lalu saya pun menceritakan mengenai jadwal dan keinginan saya untuk bisa diving di Derawan. Pas ternyata! Pas banget ternyata Mas Malik mau diving juga, dan dia bilang salah satu peserta trip saya (Mas Vidi) mau ikutan diving juga. Yipppiii!!! Happy banget ketemu yang mau nyelam juga. Mengingat trip organizer yang saya pakai tidak bisa membantu dalam mewujudkan keinginan saya untuk diving.

Hingga pukul 09.00 kapal kami pun belum berangkat juga, kondisi angin dan gelombang di laut semakin tinggi. Mas Malik pun menawarkan untuk ikut trip diving di hari ketiga esok, dengan resiko saya dan Mas Vidi harus keluar dari grup rombongan dan tidak bisa ikut jalan-jalan dengan meraka. Okelah gak masalah, asal bisa diving yang penting. Dengan konsep biaya share cost untuk kapal dan penyewaan alat jadi bisa lebih ringan biayanya. Ringga (Tour Leader) kami pun mengahampiri peserta trip dan mengatakan bahwa dengan kondisi cuaca seperti ini agak sulit untuk mencapai Maratua. Jadi rencana hari ini hanya mengunjungi Kakaban dan Sangalaki saja. Ringga pun memberikan 2 pilihan yaitu tetap dengan rencana semula atau mau menukar jadwal hari esok dengan hari ini. Dengan berharap besok cuaca akan berubah. Rombongan trip pun berdiskusi dengan pertimbangan jadwal hari esok adalah full snorkling dan tidak mungkin kami dipaksa snorkling dengan cuaca seperti ini, jadi memutuskan untuk tetap pada jadwal semula. Yesss!! Jadwal besok buat diving trip aman..hehehe..

Kapal berangkat menuju Pulau Sangalaki. Ya Allah gelombangnya tinggi banget ini !! kalah naik kora-kora di Dufan. Ini perut udah mual aja ngeri mabok laut. Perjalanan dari Derawan hingga Pulau Sangalaki jika kondisi laut tenang bisa di capai hanya 20-30 menit, tapi kalau lagi ekstrim macem hari ini sih ya bisa 45-sejam lah. Di Pulau Sangalaki ini kami akan diajak untuk melihat penangkaran Tukik (anak Penyu). Pulau Sangalaki ini merupakan salah satu tempat pemijahan para penyu, jadi tiap malam bisa sampai puluhan ekor penyu akan naik ke pantai untuk bertelur. Untuk penangkaran penyu nya sendiri pun di tangani langsung oleh WWF jadi telur-telur yang masih di dalam pasir akan diamankan ke dalam penangkaran dan jika usia anak penyu dirasa sudah cukup bisa survive di alam maka akan dilepas ke laut.

Tukik di Pulau Sangalaki

Tukik di Pulau Sangalaki

Pulau Sangalaki memiliki keindahan pantai pasir putih yang sangat indah, jika laut sedang surut maka kita bisa bermain pasir ke tengah laut. Selain penyu, di Pulau Sangalaki ini terkenal dengan spot Pari Manta nya. Yak jika kita datang saat jam makannya, kita bisa liat gerombolan Pari Manta muncul ke permukan, dari puluhan bahkan katanya bisa ratusan. Asli sumpah udah ngiler gak sabar banget. Kemunculan Pari Manta ini berkisar dari jam 11-13 siang. Keiinginan ini dipendam dulu buat jumpa dengan manta, cukup puas dulu saja jalan-jalan mengitari Pulau Sangalaki.

Hamparan pasir putih dan birunya laut. Sayang mendung

Hamparan pasir putih dan birunya laut. Sayang mendung

Setelah puas liat anak penyu, foto bareng, saatnya mengelilingi pulau. Pulau Sangalaki tidak terlalu besar. Jika mau menginap lebih private, di Sangalaki menyediakan beberapa cottage kayu yang sangat nyaman. Suasananya sepi dan tenang, listrik hanya menyala di malam hari. Kebanyakan yang menginap di sini turis asing. Di cottage ini juga tersedia restaurant dan dive center, jadi untuk fasilitas sudah tergolong lengkap. Untuk harganya sendiri hasil mengobrol dengan pengurus penginapan berkisar antara Rp 800.000 – Rp 1.000.000 per orang/per mlm sudah include makan 3x. Di Pulau ini juga terdapat monumen seperti monumen penanda bahwa pulau ini milik NKRI. Selain itu terdapat jembatan dermaga yang panjaaaaang sekaaaaliiii. Lokasi yang cocok dan bagus kalau buat foto.

Foto Bareng Peserta Trip

Foto Bareng Peserta Trip

Deramaga kayu yang panjang

Dermaga kayu Pulau Sangalaki

Monumen Pulau Sangalaki
Monumen Pulau Sangalaki

Setelah puas mengunjungi Pulau Sangalaki, kami pun berpindah lokasi ke Pulau Kakaban. Semakin siang semakin tinggi gelombang di laut. Speedboat semakin di hempas-hempas. Jarak dari Pulau Sangalaki ke Pulau Kakaban sebenarnya sangat dekat sekali yaitu sekitar 15 menit tetapi karena kondisi gelombang tinggi, kapal pun harus menempuh hingga 45 menit. Rasa mual pun timbul, ketika kapal bersandar di darmaga, hal yang pertama yang saya lakukan adalah jackpot alias muntah. Di dermaga ini sambil istirahat sekalian makan siang. Sembari makan siang dan menghilangkan rasa eneg, saya pun mengambil foto di sekitaran darmaga Pulau Kakaban.

Selamat datang di Pulau Kakaban

Selamat datang di Pulau Kakaban

So clear water

So clear water

Awan mendung masih menyelimuti perjalanan hari ini, tapi tidak dengan semangat kami untuk terus bermain. Perairan di sekitar Pulau Kakaban didominasi warna hijau. Sangat jernih dari atas. Untuk berenang di danau Kakaban terdapat larangan yaitu jangan menggunakan Fins (Kaki Katak) dikarenakan dapat mengganggu ubur-ubur di dalam danau. Ubur-ubur binatang seperti jelly dan sangat rapuh tubuhnya, jika terkena hempasan dari fins ditakutkan dapat tersobek atau terkena tubuh ubur-ubur. Untuk masuk ke dalam kawasan danau kakaban kita harus menaiki tangga dan melewati loket penjaga pertama kali. Berhubung kami telah membayar trip maka untuk urusan biaya masuk ke danau, pihak penyelenggara yang akan mengurusnya. Dari loket penjaga jalan menuju danau kita harus melewati tangga-tangga dan jembatan kayu yang panjang sekali. Pemandangan kanan kiri adalah pohon-pohon hijau yang sangat rindang sekali. Sungguh adem dan nyaman sekali suasananya. Sesampainya di danau, tanpa basa basi langsung ambil masker dan snorkel dan byuuuuuurrrrrr!!!! Woow banyak sekali ubur-uburnya, dan benar-benar tidak menyengat. Gemes sekali rasanya melihat ubur-ubur ini, mereka berenang dengan cara terbalik dan jika jatuh ke dasar danau mereka tidak bisa naik lagi. Lucu sekali! Sambil mencari-cari Mas Malik untuk bisa di foto, yak lumayan dapet foto bareng ubur-ubur. Kondisi di dalam danau agak butek saat itu kemungkinan karena banyaknya orang yang berenang di dalamnya, substrat di dasar danau ikut naik.

Pintu masuk menuju Danau Kakaban

Pintu masuk menuju Danau Kakaban

Tangga kayu yang harus dilalui

Tangga kayu yang harus dilalui

I can touch you now

Yeah, touch stingless jellyfish

Waktu yang saya habiskan di danau tidak banyak karena Mas Malik mengajak saya untuk snorkling di depan dermaga Pulau Kakaban. Info dari dia, katanya underwater di depan Pulau Kakaban sangat bagus dan kondisi di bawahnya berbentuk slope wall. Saya pun bergegas mengambil fins saya di kapal dan ternyata kapalnya parkir di tengah laut. Sedikit ada kecelakaan di sini, ketika saya meminta tolong salah satu kru tour leader trip kami untuk mengambilkan fins saya, ternyata dia menolak dan malah menyuruh saya untuk berenang mengambilnya sendiri ke kapal. Sebel sih, kok gitu banget yah tega! Berenang dari dermaga ke kapal sekitar 30 meter, lumayan sih dan hanya bermodal snorkel dan masker saya pun terbawa arus. Yak kaki saya tanda sengaja menendang baling-baling kapal! Awalnya saya tidak sadar, ketika sudah naik ke kapal, darah pun bercucuran muncrat dari kelingking kaki kanan saya. Panik saya saat itu, saya takut kaki saya putus karena darah tidak berhenti mengalir. Untung kapten dan ABK kapal sangat sigap melihat kondisi saya seperti itu, langsung semua peralatan P3K dikeluarkan untuk membantu menghentikan pendarahan. Mas Malik pun sudah memanggil-manggil dari dalam air, saya masih merintih kepedihan di atas kapal. Setelah darah agak sedikit berkurang, saya tetap nekat untuk snorkling dengan berharap tidak ada hiu ditengah-tengah sana. Kaki pun saya perban full dan langsung saya pakaikan fins. Snorkling paling berdarah ini selama hidup saya, menahan sakit di tengah laut. Ketika saya duck dive ke bawah, wooowww!!!! Pemandangan lautnya luar biasa. Kontur wall dengan karang yang rapat di tambah banyaknya jenis-jenis ikan yang berkeliaran. Jenis ikannya pun beragam, dari ikan Pomacentridae, Acanthuridae hingga saya pun berjumpa dengan spesies ikan kesayangan saya, Moorish Idol (Zanclus cornutus). Sayang tidak bawa housing kamera underwater. Rasa sakit pun terbayar sudah. Mas Malik asik mengambil video dengan kamera Go Pro nya dan saya fins swimming sambil sesekali tuck dive turun ke bawah. Snorkling pun saya hentikan karena kaki mulai nyeri yang luar biasa. Tidak mau ambil resiko panjang, saya langsung naik ke dermaga untuk istirahat sambil foto-foto.

Say Tongsiiiiiiis !!!

Say Tongsiiiiiiis !!!

Pemandangan dari depan darmaga Kakaban

Pemandangan dari depan darmaga Kakaban

Underwater Kakaban.

Underwater Kakaban.

Oleh-oleh dari Kakaban, kelingking kanan luka
Oleh-oleh dari Kakaban, kelingking kanan luka

Dermaga Cinta Kakaban

Dermaga Cinta Kakaban

Semua rombongan sudah puas snorkling dan bermain di danau, waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 dan saatnya kembali ke Derawan. Lagi-lagi perjalanan pulang tidak mulus kembali, gelombang masih tinggi. Perjalanan begitu sangat lama untuk kembali ke Derawan. Di tengah laut dengan gelombang yang tinggi sesekali ikan terbang lewat melompat-lompat dari antara gelombang. Pemandangan yang indah walaupun perut saya sangat tidak enak sekali. Sesampainya di Derawan kami pun langsung bersih-bersih dan istirahat sambil menunggu waktu makan malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s